Ada suatu kelompok yang mempermasalahkan akidah umat Islam, khususnya keimanan umat Islam di Indonesia. Mereka mengklaim bahwa umat Islam umumnya saat ini banyak yang telah kufur. Alasannya karena mereka tidak bertauhid uluhiyah. Apa sebenarnya tauhid uluhiyah?
Memahami Tauhid Uluhiyah
Pelopor pertama paham tauhid uluhiyah adalah seorang ulama abad
ke tujuh bernama Imam Ibnu Taimiyah.
Pemahaman tersebut ia dapat setelah memahami perbedaanantara lafaz rab dan ilah. Sehingga
terciptalah tauhid rububiyah dan uluhiyah. Paham tersebut kemudian juga diambil
oleh Muhammad bin Abdul Wahab dan dijadikan sebagai dasar akidah bagi golongan
yang kini disebut dengan Wahabi.
Maksud dari tauhid
rububiyah adalah meyakini bahwa Allah adalah Pencipta alam semesta beserta
isinya. Dengan berdasarkan dalil Al-Qur’an surat al-Luqman ayat 25:
وَلَإِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ
السّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنّ اللَّهُ
“Ketika mereka
(orang kafir) ditanya siapa yang menciptakan langit dan bumi? Niscaya mereka
akan menjawab Allah”.
Memahami Tauhid Rububiyah
Setelah bertauhid rububiyah,
selanjutnya seseorang harus bertauhid uluhiyah. Imam Ibnu Taimiyah mengartikan
tauhid uluhiyah dengan beribadah hanya pada Allah saja, tanpa melalui perantara
apapun. Karena sejatinya Dzat yang pantas untuk disembah hanyalah Allah.
Di sini orang kafir tidak dianggap bertauhid uluhiyah, karena
dalam praktik ibadah mereka tidak menyembah Allah. Imam Ibnu Taimiyah juga
mengkafirkan orang yang berziarah kubur karena
dianggap telah menyekutukan Allah. Imam Muhammad bin Abdul Wahab juga
menjelaskan dalam kitabnya, Kasyfusy-Syubuhat terkait tauhid uluhiyah dan keresahannya akan akidah umat
Islam saat ini:
إِعْلم رَحِمَكَ اللَّهُ أَنّ
التّوْحِيدَ هُوَ: إِفْرَادُ اللَّهِ بِالْعِبَادَةِ … ارْسَلهُ اللَّهُ الى
قَوْمٍ يَتَعَبَّدُونَ وَيَحُجّونَ وَيَتَصَدّقون وَيَذْكُرُونَ اللَّهَ كَثِيرًاً
وَلَكِنّهُمْ يَجْعَلُونَ بَعْضَ الْمَخْلُوقَاتِ وَسَائِطَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ اللَّهِ،
يَقُولُونَ: نُرِيدُ مِنْهُمْ التّقَرّبَ الَى اللَّهِ، وَنُرِيدُ شَفَاعَتَهُمْ
عِنْدَهُ، مِثْلَ: الْمَلَائِكَةِ، وَعِيسَى، وَمَرْيَم، وَأُنَاس غَيْرهمْ مِنَ
الصّالِحِينَ
“Ketahuilah bahwa
pengertian tauhid ialah mengesakan Allah dalam hal ibadah. … Allah mengutus
Rasul pada kaum yang suka menyembah Allah, berhaji, bersedekah, dan juga
berzikir. Hanya saja mereka menjadikan sebagian makhluk sebagai penengah antara
mereka dengan Allah. Mereka beralasan bahwa apa yang mereka lakukan tak lain
karena untuk mendekatkan diri pada Allah dan mengharapkan syafaat dari penengah
itu. Seperti melalui para malaikat, Nabi Isa, Sayidah Maryam, dan orang-orang
saleh.”
Menanggapi Pemahaman Tauhid Ala
Wahabi
Dalam beragama, umat Islam tidak bisa dipisahkan dengan ibadah.
Dalam beribadah kita juga dituntut mengimani segala hal yang telah disyariatkan
Nabi Muhammad termasuk iman kepada Allah. Sejalan dengan pernyataan Syekh Umar
Abdullah Kamil dalam Kitab “Inshaf” (hal: 235) yang mengartikan tauhid dengan mengesakan tuhan
dalam praktik ibadah serta keyakinan yang menyertainya baik secara dzat,
sifat, dan af’alnya. Jadi orang yang
telah meyakini akan kebenaran Allah maka secara tidak langsung mengharuskannya
beribadah hanya kepada-Nya.
Pernyataan Imam Ibnu Taimiyah terkait pembagian tauhid rububiyah
dan uluhiyah tidak bisa dibenarkan, karena sejatinya tidak ada perbedaan
diantara keduanya. sebagaimana dalam al-Qur’an surat al-An’am: 102, yang tidak
memisah antara lafaz “rab” dengan “ilah”:
ذٰ لِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمۡۚ
لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ خَالِقُ كُلِّ شَىۡءٍ فَاعۡبُدُوۡهُۚ وَهُوَ عَلٰى
كُلِّ شَىۡءٍ وَّكِيۡلٌ
“Itulah Allah, Tuhan
kamu; tidak ada tuhan selain Dia; pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia;
Dialah pemelihara segala sesuatu.” (QS. Al-An’am: 102)”.
Syekh Umar Abdullah Kamil dalam Kitab “al-Inshaf” (hal: 237)
juga menjelaskan terkait kerancuan pembagian tauhid ala Ibnu Taimiyah khususnya
tauhid uluhiyah:
أَنَّ تَقْسِيمَ التَّوْحِيدِ
الَى تَوْحِيدِ رُبُوبِيَّةٍ وَتَوْحِيدِ أُلُوهِيّةٍ وَالَى أَسْمَاء وَالصّفَاة
هُوَ تَفْسِير غَيْر مَعْرُوفٍ لِأَحَدٍ قَبْل إِبْنِ تَيْمِيَّة
“Pembagian tauhid
menjadi tiga merupakan hal yang belum dikenal sebelum Imam Ibnu Taimiyah.”
Dalam kitab at-Tawashul bin-Nabi, (hal: 23) Syekh Abu Hamid bin Marzuq menegaskan bahwa tidak
ada perbedaan antara lafaz rab dan ilah dalam artinya, bahkan keduanya oleh Syekh Abu Hamid
disebut lafaz yang mutaradif atau sinonim dari kata Tuhan.
Berarti jika diruntut kembali, pemahaman tauhid rububiyah dan
uluhiyah menurut Wahabi yang katanya berbeda, sejatinya “talazum”. Yakni, antara satu
dengan lainnya tidak bisa dipisahkan dan dibedakan, baik secara ‘uruf maupun syara’. Sebagaimana dalam
surat al-An’am: 102, yang tidak memisah antara lafaz “Rab” dengan “Ilah”
Irvan
Rizki | Krisisliterasi
Komentar
Posting Komentar